Kontes Pencarian bakat Anak = Viktimisasi…?

Saat saya kecil memang belum banyak tv di negeri ini. Namun akhir-akhir ini televisi benar-benar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan anak indonesia. Betapa tidak, benda kotak itu telah menjadi tontonan “wajib’ anak indonesia. Yang jadi pertanyaan apakah kotak ajaib bernama televisi telah memberikan yang terbaik bagi anak indonesia ? atau justru “memaksa” anak indonesia untuk menerima ”petuah-petuahnya”

Akhir-akhir ini beberapa stasiun tv swasta gemar membuat acara tentang ajang pencarian bakat baik bagi remaja maupun anak-anak. Yang membuat saya heran dan geleng geleng kepala adalah program acara kontes nyanyi anak-anak yang menurut saya tidak mencerminkan anak-anak. Apa buktinya…? contoh yang paling gampag kita lihat adalah lagu-lagu yang dibawakan peserta kontes tersebut. ”Mana lagu anak-anaknya?” tanya saya. Yang ada dalam kontes itu adalah anak-anak yang menyanyikan lagu-lagu remaja atau dewasa. Apa kontes menyanyi anak itu artinya anak yang menyanyi saja, tanpa peduli lagu itu cocok buat anak atau tidak. Sungguh kasihan anak-anak jaman sekarang. Di era sekarang taka banyak lagu-lagu anak yang bisa mereka dengarkan. Hampir setiap hari telinga mereka dipenuhi lagu-lagu dewasa yang sebetulnya bukan menu mereka. lalu itukah permasalahannya sehingga kintes nyayi anak tersebut “menghalalkan” lagu dewasa tersebut dinyanyikan anak-anak peserta kontes.

Ya kita tahu lah kalau lagi-lagu dewasa, khususnya remaja toh hanya ngomong masalah cinta, pacara, selingkug, ditinggal pacar, hura-hura dan ya seputar itu. Lalu apa jadinya kalo anak-anak terus mendapatkan “asupan” yang seperti itu. Yang jelas bisa-bisa secara psikologi mereka akan dewasa terlalu cepat.

Disamping itu tak jarang emosi peserta juga dimainkan oleh pihak penyelenggara, sehingga deraian air mata peserta, orang tua dan penonton menjadi komoditi yang dijual stasiun televisi. Saya benar benar tak habis pikir dengan acara ini. Tega sekali penyelenggara melakukan ini, lebih-lebih atas nama rating. Memang ajang tersebut untuk menyalurkan bakat peserta yang tergolong istimewa. Tapi apakah atas nama pengembangan bakat dan potensi lalu hal-hal yang bukan posri untuk anak-anak bisa begitu saja diberikan ?

Ya kita tahu lah, pasti anak-anak peserta kontes tersebut akan sangat senang dan bangga bisa tampil ditelevisi, apalagi di stasiun tv nasional, di dampingi orang tua lagi. Namun orang tua harusnya juga ingat, jangan sampai gara-gara mengejar popularitas sehingga mengorbankan hak-hak anak. “Lho orang tua kan harus mendukung bakat yang dimiliki anak”,”Untuk sukses kan memang harus berjuang sejak kecil” mungkin itulah bantahan bantahan yang sering kita dengar.

Tapi yang jelas jangan sampai kita hanya terbuai untuk menggapai keberhasilan semu yang disajikan lewat gemerlap layar kaca. Semua terpulang pada masing-masing orang tua, karena mereka lah yang punya andil menentukan masa depan anak-anaknya. Yang jelas negeri (kata orang jawa) ngajangi ombo setiap talenta yang akan berkembang. Kalo saya boleh tanya “emang semua mau jadi artis gitu ?” hfuuuuh…….

Advertisements

4 responses to “Kontes Pencarian bakat Anak = Viktimisasi…?

  1. sya mau nanya dimana tempat latihan or kursus bakat anak dulu memang pernah ditawarin masih anak sya umur 2 tahun tapi saya belum punya biaya anak saya skr umur 4 tahun trims arie tangerang BSD

  2. walah…
    para kreator acara mungkin terlalu cerdas sehingga ngga sempet memikirkan dampak/efek samping dari acara tersebut.
    sehingga yang dikejar hanya sisi finansial saja. mungkin beberapa tahun lagi masalah ini akan dipandang dengan dua mata oleh pihak2 yang berkaitan.
    lek saiki sek aman2 wae crut.
    deloken pirang taun maneh… wong indonesia iku repot.. (kadang aku yo ngono..) ngenteni kedadenan disek baru repot… hahaha..

  3. Pingback: Jadi Korban atau Idola? « lumansupra·

  4. Bisa dibantu ya?

    Saya punya anak perempuan umur 3,8 tahun, lahir 17 April 2006, cantik badan langsing, sekarang seklha TK/play group, kalau disuruh mewarnai dia lebih bisa ketimbang menulis huruf angka, makan sulit, anaknya pemalu untuk pertama kali setelah itu baru dia lincah

    Dimana, apa yang harus saya lakukan terhadap anak ini ya, ya mungkin para psyciater yang lenih tahu masalah ini

    Terima kasih atas infonya, petunjuk da arahan yang diberikan,

    Salam,
    Adi Sutjipto
    0812-5971 5973

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s