Kick Me…..!

Mendeskripsikan apa dan bagaimana diri saya tidak semudah menentukan titik koordinat pada diagram kartesius, atau bahkan tak segampang sang maestro lukis yang tangannya menari-nari diatas kanvas untuk melukiskan wajah tokoh-tokoh dunia. Saya memandang setiap orang adalah pribadi yang unik dan memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain. Termasuk diri saya pribadi. Setiap orang diciptakan berbeda bukan untuk saling menghina dan menjatuhkan, atau yang satu merasa lebih unggul dari yang lain. Tetapi perbedaan diciptakan supaya kita bertanya, saling mengenal dan menjawab perbedaan sebagai warna hidup. Karena Mas Tukul pernah bilang “don’t judge the book from the cover”

Saya bungsu dari tiga bersaudara dilahirkan pada Kamis legi,7 Agustus 1986 dan oleh kedua orang tua saya diberi nama NURUL FATHURROKHIM M. Saya lebih suka menulis nama saya seperti itu, tidak secara lengkap. Dari situlah saya ingin menunjukkan siapa diri saya. Saya tidak bermaksud menyembunyikan identitas, tetapi saya ingin orang mengetahui siapa saya sebenarnya dengan bergaul dan memahami bagaimana karakter saya sampai akhirnya tahu siapa nama lengkap saya. Lahir dari keluarga petani sederhana yang tinggal di kaki sebelah timur Gunung Kawi, dan di tempat itu pula saya banyak menghabiskan masa kecil saya, meskipun pernah beberapa tahun tinggal di Jakarta dan Bogor sebelum akhirnya harus kembali ke kampong halaman akibat guncangan krisis ekonomi di era 1997. Mengikuti orang tua untuk mengadu nasib di kampung orang bagi saya laiknya nonton sinetron di televisi. Tangis dan tawa tergambar jelas di pelupuk mata. Bukan hal yang mudah bagi seorang bocah yang kala itu baru berumur sepuluh tahun untuk menerima kenyataan itu. Dan orang jawa pernah bilang “ Jamane jaman edan yen ora edan ora keduman, tapi isih bejo wongkang eling” Tapi begitulah garis hidup, tak pernah memandang warna dan usia.

Banyak orang memiliki motto hidup sebagai sebuah prinsip. Tapi bagi saya motto hidup tak lebih dari sebuah tembok besar yang berdiri angkuh untuk membatasi segala imajinasi dan pemikiran. Bagi saya berkompromi untuk menjaga idealisme agar tetap hidup dan di ikuti orang lain adalah sebuah pilihan ketimbang mati konyol mempertahankan idealisme pribadi. Tetapi seperti kebanyakan orang saya juga menganut prinsip-prinsip basi yang sering diungkapkan oleh motivator-motivator ulung macam Wiliam Wongso (ups sori, maksud ku Andri Wongso. Wiliam Wongso kan pakar kuliner), yaitu “belajar itu tak mengenal dimensi waktu, tempat, dan objek, jadi belajar itu bisa kapan saja dimana saja dan kepada siapa saja”.

Setiap teman saya memiliki pandangan yang berbeda terhadap saya, ada yang mengenal saya sebagai pribadi yang humoris, mudah bergaul, susah serius, dan power full. Tapi tak sedikit yang bilang kalau saya adalah pribadi yang cuek, egois,berjiwa leadership, kolot, pemalas dan gak gaul. Dan memang seperti itulah saya, karena sisi baik dan buruk selalu ada pada diri saya, tinggal dari sisi mana orang melihat saya. Begitu pula saya melihat orang lain. Kadang saya berdecak kagum melihat orang lain dari sisi tertentu dan tak jarang pula saya menyepelekan orang lain karena melihat dari sisi yang kurang tepat. Sebagai seorang yang berkarakter sanguinis, saya lebih suka sesuatu yang mengalir seperti air, yang tak akan berhenti sampai air itu sendiri habis. Karena bagi saya hidup ini tak mesti kencang terus berlari, karena kita butuh berhenti sejenak untuk menghela nafas dan kemudian siap untuk berlari kembali.

Advertisements

4 responses to “Kick Me…..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s