Catatan Buat Calon Istriku (bagian-2)

Sampai hari ini (kamis,28 februari 2008) tampaknya polemik masalah susu formula (olahan) yang mengandung bakteri sakkazaki, masih terus berlanjut. Dari berita yang saya lihat sore ini di sebuah setasiun televisi (RCTI) tadi, diberitakan bahwa pihak IPB dan pihak Badan POM belum juga mempublikasikan susu merek apa saja yang mengandung bakteri tersebut. Tentunya hal ini semakin membuat cemas ibu-ibu yang selama ini memberi susu formula kepada bayinya.

Dalam sesi wawancara (segmen lain dalam berita di televisi tersebut) yang menghadirkan seorang dokter spesialis anak tersebut juga kembali menyampaikan hasil penelitian dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa, hanya satu dari seribu wanita yang benar-benar tidak dapat menyusui. Jadi, kalau selama ini banyak wanita tidak dapat menyusui (tidak mengeluarkan ASI), khususnya di indonesia karena terjadi “salah kaprah” dalam persalinan. Dari wawancara tersebut terungkap satu hal yang sangat mencengankan, apa itu ? Dokter tersebut menyatakan, setelah bayi lahir dan tali pusarnya dipotong, bayi seharusnya diletakkan di dada si ibu selama sekitar satu jam, sehingga pada usia 50 menit bayi tersebut secara insting akan mencari payudara sang ibu untuk menyusui. Hal tersebut juga berfungsi untuk menyesuaikan suhu bayi, dokter tersebut mencontohkan bahwa bila suhu bayi turun 1 derajat celcius maka suhu payudara ibu akan naik satu derajat celcius, dan sebaliknya. Baru setelah itu (setelah suhu bayi stabil) baru dilanjutkan proses selanjutnya. Ternyata proses yang selama ini terjadi adalah keliru. Kebanyakan yang terjadi adalah, setelah bayi dipotong tali pusarnya, langsung dibersihkan, dibedong dan disinari lampu, dan baru beberapa waktu kemudian diserahkan kepada sang ibu. Dan ternyata kekeliruan tersebut terjadi sejak mulai dari pendidikan awalnya. Nah lo…. Jadi selama ini persalinan di negri ini benar-benar “salah kaprah” donk. Peristiwa ini benar-benar sebuah teguran bagi kita semua.

Dan dari polemik itu ternyata terungkap banyak hal, salah satunya adalah peristiwa tentang persalinan diatas, yang selama ini kita anggap sudah benar tapi ternyata masih terjadi kekeliruan. Berbahagialah para ibu yang diberi kemampuan untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Sepertinya ini adalah teguran agar seorang ibu mau menyusui anaknya dan benar-benar memberinya ASI eksklusif. Jadi kita tidak perlu lagi tergantung dengan susu formula dan makanan bayi instant. Toh, ketika harga susu membumbung tinggi, orang tua tidak perlu cemas. Sudah seharusnya para orang tua memberikan yang terbaik, yaitu ASI eksklusif dan makanan alami bagi sang bayi. Supaya “generasi anak sapi” (baca : Catatan Buat Calon Instriku,Bagian-2 ) tidak terus membumi.

Sekali lagi ini adalah sebuah harapan dari hati saya yang paling dalam, sebagai seorang laki-laki yang nantinya (Insya Allah) akan menjadi seorang suami dan menjadi bapak bagi anak-anak saya. Saya kepingin nantinya ibu dari anak-anak saya memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan terima kasih Mbak Rahma (kakak ipar ku) yang ternyata merespon pesan saya dan ternyata kita pemikiran sama. Semoga impian yang baik ini dapat terwujud dan mendapat ridho-Nya. Amin

Advertisements

3 responses to “Catatan Buat Calon Istriku (bagian-2)

  1. opo wae sih yul? arep kawin ta?
    kalo butuh buat desain undangan kasih ke q ya!!!
    wis puas? sekarang dah aq kasih koment. hehehe.
    btw, kapan ke malang? aku pingin kerumahmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s