Catatan Buat Calon Istriku (bagian-1)

Polemik tentang hasil penelitian di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyatakan adanya kandungan berbahaya di dalam susu formula (olahan) terus berlanjut. Sampai sekarang baik pemerintah maupun IPB belum mempublikasikan merek susu formula apa saja yang berbahaya itu. Tentunya ini menmbulkan kekhawatiran bagi para orang tua yang mempunya anak dalam masa menysui.

Peristiwa ini kembali membuka memori saya tentang suatu hal yang masih ada sangkut pautnya mengenai susu bayi. Saat itu ketika sholat jumat, di masjid dekat tempat kos saya (sekitar kampus ITS), Khotib menyinggung tentang tingkah polah generasi muda saat ini. Mulai maraknya penggunaan narkoba hingga pudarnya rasa “malu” yang menghinggapi sebagian kawula muda, yang berdampak pada maraknya sex bebas yang mewarnai kehidupan muda-mudi negeri ini. Saat itu khotib menyatakan, hal ini tidak sepas dari susu sapi. Lho kok bisa…? (saat itu saya pun berpikiran demikian). Kemudian khotib manjelaskan bahwa, disadari atau tidak susu sapi yang selama ini di berikan orang tua kepada bayinya turut punya andil dalam perkembangan sikap dan perilaku bayi tersebut nantinya. Jadi susu sapi olahan yang diberikan kepada si bayi masih mengandung zat (atau apapun namanya) yang membawa sifat-sifat hewani. Sehingga ketika dewasa, sifat-sifat itu juga turut terbawa. Misalnya, pudarnya rasa malu dan sopan santun (hewan kan memang tak punya malu dan tidak perlu sopan santun), Perilaku sex bebas (itu sudah naluri hewan).

Secara ilmiah mungkin orang akan tidak sependapat dengan hal ini. Karena susu-susu tersebut sudah diolah secara modern dan higienis. Bolehlah kita beranggapan seperti itu. Ya…., kita tahu bahwa pabrik-pabrik susu itu mempekerjakan para professor yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Tapi kita harus sadar bahwa kemampuan kita sebagai manusia sangat terbatas. Dan ada banyak hal yang belum kita ketahui. Nah, bisa saja hal yang belum diketahui itu salah satunya adalah adanya zat-zat yang terkandung dalam susu sapi itu, yang akhirnya berkembang dalam diri manusia dan mempengaruhi saikap dan perilakunya (bisa saja kan seperti itu).

Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini ?

Saya cuma ingat dengan anjuran pemerintah tentang ASI Eksklusif. Sebenarnya betapa bagus program pemerintah ini. Karena mengajak para ibu (khususnya ibu muda) untuk mau memberikan ASI kepada bayinya. Ya…., kita tahu kan kalau banyak (jumlahnya berapa saya gak tahu yang pasti banyak). Banyak alasan yang melatar belakangi kenapa para ibu tidak mau menyusui bayinya. Mulai dari lasan medis hingga demi menjaga penampilan.Kita mungkin pernah mendengar pernyataan yang bunyinya kurang lebih begini “kan gak keren kalo orang secantik model gini kok menyusui bayi, kan tubuh sksi ku bisa rusak, kan udah ada susu instant ngapain repot” Kalimat diatas memang karangan saya, tapi kita tidak mungkin menutup mata bahwa masih ada yang berpandangan seperti itu. Siapa dia…? Ya tentu saja ibu-ibu yang cuma mikirin diri sendiri, dan tidak memikirkan si bayi yang akan tumbuh menjadi generasi yang kan datang.

Satu hal yang perlu kita ingat, seorang ibu sangat menentukan pertumbuhan generasi bangsa, kalau sampai para Ibu terbuai dan terjebak pada gaya hidup berpikir instant sehingga lupa akan kodratnya untuk menyusui sang bayi. Maka siap-siap saja akan semakin banyak “generasi anak sapi” di negeri ini.

Saking teringatnya saya sama khotbah itu, saya sampai bilang ke kakai ipar saya (yang dinikahi, agustus 2007 lalu) ”Mbak, keponakan saya nanti jangan disusu sapi ya, pokoknya mbak harus beri ASI eksklusif..!” Dan, Alhamdulillah kakak ipar saya sependapat sama saya. Dia juga tidak mau anaknya jadi “generasi anak sapi”. Saya pun sempat bertanya sama Ibu saya tentang hal tersebut, dan beliau menjawab bahwa meskipun kami dari keluarga yang sederhana kami (anak-anaknya) diberi ASI eksklusif sampai berusia 2 tahun. Syukurlah kalu begitu, terima kasih Bunda.

LALU APA HUBUNGANNYA DENGAN JUDUL DIATAS…..!

Saya cuma ingin bahwa istri saya yang nanti akan jadi Ibu bagi anak-anak saya mau memberikan ASI eksklusif dan mau merawat anaknya sendiri. Mengingat dampaknya yang begitu besar dalam membangun sebuah generasi. Bismillah, semoga saya mendapatkan calon istri yang bisa menjadi Ibu bagi anak-anak kami. Wah tapi sepertinya masih jauh, soalnya sekarang saja masih jomblo, dan umur juga masih mau 22 tahu. Heeee……he…… Tapi bolehkan kalau saya punya harapan.

Advertisements

One response to “Catatan Buat Calon Istriku (bagian-1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s