CALO ITU

Waktu itu memang masih jam 5 pagi, ketika saya menuju loket peron di Terminal Purabaya, Surabaya. Semuanya masih sepetia biasa dan tidak ada hal baru yang saya temukan disana. Tetapi ketika saya masuk diruang tunggu saya sedikit terkejut, karena tidak ada lagi teriakan calo yang biasanya setia “menyambut” dan “mengarahkan” setiap calon penumpang, dan tidak jarang saya merasa jengkel dengan ulah para calo tersebut. Bahkan saya pernah kena damprat calo gara-gara saya tidak menjawab ketika calo itu bertanya “Kemana Mas? Jakarta, Malang, Jogja?” tetapi dengan memaksa dan menarik lengan saya. Entah saat itu memang belum waktyunya para calo beroperasi (padahal setahu saya Terminal Purabaya adalah salah satu terminal yang tidak pernah tidur) ataukah aturan baru yang yang diterapkan disana sudah benar2 dijalankan. Seandainya aturan tersebut memang benar-benar diterapkan saya senang sekaligus prihatin. Saya senang karena saya tidak lagi risih dengan ulah para calo yang cenderung memaksa para calon penumpang. Selain itu ada pertanyaan besar dalam benak saya, ” Kerja apa ya para calo itu sekarang?” tidak hanya itu tapi “Gimamana ya nasib keluarga para calo itu?, apa anak-anaknya tidak terganggu sekolahnya karena bapaknya tak lagi bekerja?” Sebuah dilema memang ketika negeri ini ingin memberi layanan publik dengan lebih baik tetapi rakyat kecil juga yang kena getahnya. Negeri ini memang terus berbenah dan menjadi tugas kita juga untuk tidak hanya diam.

Advertisements

One response to “CALO ITU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s